Amerika Tolah Berikan Teknologi, Proyek Pesawat Tempur Indonesia-Korea Simpang Siur

Pemerintah Amerika dikabarkan menolak untuk memberikan teknologi transfer untuk 4 item yang diminta Korea untuk digunakan di project KFX/IFX. Namun 21 item teknologi lainnya yang diminta Korea Selatan tidak mengalami penolakan. Penolakan ini dikonfirmasi secara resmi oleh pejabat di Defense Acquisition Program Administration (DAPA) pada hari Selasa (22/09/2015) lalu. Penolakan ini memunculkan kembali pertanyaan tentang masa depan project ini.

Adapun ke empat item teknologi yang ditolak oleh pemerintah Amerika adalah adalah active electronically scanned array (AESA) radar, infrared search and track (IRST), electronic optics targeting pod (EOTGP) and Radio Frequency jammer. Alasan penolakan pemerintah Amerika Serikat ini dikarenakan masalah keamaan nasional yang terkait dengan teknologi sensitive bagi Amerika. Hal ini diungkap oleh beberapa media Korea Selatan seperti Korea Times, Yonhap News dan Business Korea.

Menanggapi penolakan Amerika ini, DAPA menyebutkan bahwa mereka akan mencari partner dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan akan 4 core teknologi tersebut. Kemungkinan Korea Selatan akan mencari partner dari negara Eropa dan corporasi internasional lainnya. Disebutkan pula bahwa Korea Selatan sendiri sudah mengembangkan beberapa item dari 4 core teknologi tersebut di lembaga riset milik Korea Selatan.

Pemerintah Korea Selatan sendiri pada tahun 2014 lalu sudah memilih pesawat tempur F-35A Lightning II sebagai pemenang tender FX-3 untuk kebutuhan Angkatan Udara Korea Selatan (ROKAF). Kontrak pembelian alutsista yang bernilai sekitar US$7.06 Miliar untuk 40 unit F-35A Lightning II itu, diikuti dengan perjanjian transfer teknologi dari Lockheed Martin kepada project pengembangan pesawat tempur KFX/IFX. Ketika penandatanganan kontrak tersebut, pemerintah Korea Selatan yang diwakili oleh DAPA dan Lockheed Martin memiliki kesepakatan bahwa Lockheed Martin akan memberikan 21 core teknologi untuk project KFX/IFX.

Namun belakangan pemerintah Korea Selatan melalui DAPA melakukan negosiasi ulang dengan Lockheed Martin untuk menambah 4 core teknologi tambahan untuk dimasukkan dalam daftar transfer teknologi dari Lockheed Martin dan Amerika sebagai imbalan atas kontran pembelian 40 F-35A Lightning II tersebut. Adapun keempat teknologi pada negosiasi tahap kedua ini adalah active electronically scanned array (AESA) radar, infrared search and track (IRST), electronic optics targeting pod (EOTGP) and Radio Frequency jammer. Lockheed Martin sendiri memberikan kesanggupan untuk memberikan teknologi ini asalkan mendapat izin dari Amerika Serikat. Hal ini karena sedari awal Lockheed Martin sudah memberikan pernyataan bahwa keempat teknologi tersebut sulit untuk diberikan oleh Amerika.

Pada April 2015 yang lalu, pemerintah Amerika Serikat menolak untuk memberikan 4 core technology tersebut untuk digunakan di project KFX/IFX. Namun kabar ini baru dikonfirmasi ke public pada bulan Juni 2015 yang lalu. Beberapa sumber menyebutkan bahwa kesepakatan final terkait transfer teknologi untuk 21 item teknologi lain dari Lockheed Martin untuk project KFX/IFX ini direncanakan selesai pada November 2015 mendatang.

Beberapa sumber yang belum bisa dikonfirmasi kebenarannya menyebutkan bahwa ada indikasi penolakan Amerika terhadap transfer 4 item teknologi ini salah satunya disebabkan adanya Indonesia didalam project ini. Tentunya alasan keamanan nasional Amerika terkait isu teknologi sensitive jauh lebih besar pengaruhnya. Namun Korea Selatan pun tampaknya tidak akan berani mengambil keputusan besar untuk mendepak Indonesia dari project ini. Hal ini karena selain menanggung 20% dana pengembangan, Indonesia juga menjadi pasar potensial bagi 50-80 unit pesawat tempur KFX/IFX di masa datang. Kehilangan pasar potensial sebesar itu akan membuat project ini semakin berat lagi untuk dilanjutkan.

Alternatif Lain Sumber Core Teknologi Non Amerika

Kekurangan 4 teknologi inti ini akan membuat project pengembangan pesawat tempur KFX/IFX yang melibatkan Korea Selatan dan Indonesia ini kemungkinan akan mengalami delay dari target sebelumnya sudah mulai operasional di tahun 2025. Namun delay ini tidak akan terlalu lama jika Korea Selatan bisa menemukan negara dan korporasi internasional lainnya yang bersedia memberikan 4 core teknologi sisa tersebut.

Hingga kini belum ada kejelasan mengenai dari mana sumber teknologi untuk kekurangan 4 core teknologi ini. Namun beberapa perusahaan multinasional seperti Selex ES dari Italia dan Inggris beberapa kali sudah disebut sejak lama sebagai salah satu kemungkinan sumber teknologi radar AESA. Sebagai mana kita ketahui bahwa Selex ES merupakan salah satu pionir dalam teknologi radar. Beberapa perusahaan lainnya juga disebut sebut seperti Thales, namun tentu bukan hal mudah untuk mendapatkan teknologi ini karena merupakan teknologi tinggi.

Korea Selatan sendiri dikabarkan sudah sejak beberapa tahun yang lalu mengembangkan radar AESA sendiri. Seperti perusahaan LIG Nex1 yang dikembangkan untuk keperluan upgrade F/A-50 Golden Eagle dan KF-16 dimasa datang. Berapa sumber menyebutkan bahwa radar ini sudah menjalani serangkaian uji coba di beberapa flatform pesawat seperti FA-50 Golden Eagle dan KF-16. Namun hingga kini radar ini masih dalam tahap pengembangan dan ujicoba.

Selain LIG NEX1, beberapa perusahaan lokal Korea Selatan juga sudah lama mengembangkan 4 core teknologi yang dibutuhkan project KFX/IFX ini. Namun kebanyakan masih dalam tahap pengembangan dan tahap uji coba sehingga masih meragukan untuk digunakan pada project KFX/IFX ini.

Lalu selain dari internal Korea, dari mana teknologi ini akan diperoleh? Pertanyaan ini tentunya masih sulit untuk dijawab saat ini. Namun DAPA sebagai agensi yang mengurus project ini menyatakan bahwa meraka sudah memikirkan hal tersebut jauh sebelum adanya penolakan dari Amerika ini. DAPA juga menyebutkan tidak akan menjadi masalah yang terlalu besar tentang penolakan Amerika ini. Pejabat tinggi di Angkatan Udara Korea Selatan juga menyebutkan bahwa project ini akan terus berjalan meski 4 teknologi ini belum didapatkan.

Rencana Cadangan Indonesia untuk Project KFX/IFX?

Melihat hal ini maka nasib project pengembangan pesawat tempur KFX/IFX ini akan bergantung pada bagaimana teknologi ini tersebut didapatkan. Sedikit banyak akan membuat project ini mengalami delay dari target sebelumnya. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap rencana jangka panjang Korea Selatan dan Indonesia terkait project ini.

Pemerintah Indonesia melalui wakil Presiden Jusuf Kalla beberapa waktu lalu memberikan pernyataan bahwa Indonesia menunda project KFX/IFX ini. Namun memang belum ada kejelasan mengenai berapa lama penundaan dari pihak Indonesia ini terjadi. Penundaan project KFX/IFX oleh Indonesia ini juga diikuti dengan pengalihan dana anggaran project ini kepada project lain seperti penguatan fasilitas militer Indonesia di kawasan kepulauan Natuna.

Meski penundaan ini hanya semantara waktu dan akan dilanjutkan lagi dalam beberapa waktu kedepan, pemerintah Indonesia tampaknya sudah mulai mengambil ancang-ancang rencana cadangan sebagai antisipasi kemungkinan terburuk berhentinya project ini. Prediksi penulis, rencana cadangan dari pemerintah Indonesia adalah dengan membeli dan memproduksi lokal pesawat tempur seperti SAAB Gripen maupun EuroFighter Typhoon. Sebagaimana kita ketahui bersama kedua pesawat tempur canggih tersebut ditawarkan untuk memperkuat alutsista TNI. Tidak hanya itu juga ada tawaran untuk produksi lokal alutsista ini jika dibeli oleh Indonesia.

Pesawat tempur EuroFighter Typhoon yang merupakan produk beberapa negara Eropa disebut sebut memiliki kans yang cukup besar. Hal ini karena PT Dirgantara Indonesia memberikan dukungan kuat jika seandainya pesawat tempur modern ini diproduksi di Indonesia untuk keperluan militer Indonesia. PT Dirgantara Indonesia sendiri memiliki sejarah hubungan baik dengan Airbus Military yang sekarang tergabung dalam konsorsium EuroFighter.

Project KFX/IFX ini sendiri ditargetkan untuk menggantikan pesawat tempur Indonesia seperti Hawk-109/209 di sekitar tahun 2025 mendatang. Mengingat hal ini, maka walaupun project KFX/IFX ini gagal, Indonesia masih memiliki waktu yang cukup panjang untuk menjalankan rencana cadangan. Sehingga tampaknya pemerintah masih akan menunggu dan melihat bagaimana perkembangan dari project KFX/IFX ini sebelum memutuskan alternative lain.

So, bagaiamankah kelanjutan dari project pengembangan pesawat tempur KFX/IFX yang melibatkan Korea Selatan dan Indonesia ini? Kita tunggu saja.


_________________________________________________________
Info: Kepada seluruh pembaca blog ini yang ingin mengambil atau copas koleksi foto ini, harap menyertakan linknya!!! Jika tidak disertakan link blog ini, kami akan melaporkan postingan copas tersebut ke google sebagai bentuk pelanggaran dan postingan illegal. Blog yang banyak melanggar dan berisi konten illegal/plagiat akan dihapus dari google. Atas kerjasama dan perhatiannya kami ucapkan terimakasih!!!
__________________________________________________
http://militaryanalysisonline.blogspot.com/p/tips-pasang-iklan-di-blog-portal.html
=> KLIK DISINI UNTUK INFO SELANJUTNYA <=

visit www.loogix.com
DVD ANAK SHOLEH SERI TUPI DAN PINGPING HARGA RP. 85.000-,
ORDER SILAHKAN HUBUNGI 085776198615

visit www.loogix.com
DVD HARUN YAHYA SEDANG PROMO NIH, DARI HARGA RP. 150.000-,
JADI RP. 100.000-, ORDER HUBUNGI 085776198625
http://www.loogix.com/

DVD ANAK BERMAIN SAMBIL BELAJAR BERSAMA MIMI ADA 4 CD
PLUS DAPAT 2 BONEKA JARI, PANDUAN DONGENG DAN KARTU CERDAS
DAPATKAN SEMUANYA DENGAN HARGA RP. 95.000
ORDER HUBUNGI 085776198625

Koleksi baju untuk anak-anak muslim AFRA KIDS....Bagi yang berminat silahkan 
hubungi nomor kontak kami 085776198625 Whatsapp/SMS/Telp

Berita Militer Adalah Blog DOFOLLOW Yang dapat Memberikan Backlink Kepada Pengunjung Blog ini Hanya dengan Meninggalkan KOMENTAR Anda. Kami Harap Kerjasama Anda Untuk Tetap Menjaga Reputasi Blog ini dengan tidak Berkomentar yang Berisi SPAM


EmoticonEmoticon