Haji Agus Salim Hipster


Hipster adalah suatu paham muda-mudi yang tidak ingin mengikuti tren kekinian, selalu anti dengan segala hal yang telah pasaran, nongkrong di coffe shop sambil membaca novel yang terbitannya pun terbatas, bagi laki-laki biasanya suka mengoleksi piringan hitam menumbuhkan kumis dan jenggot panjang dengan style pakaian yang pokoknya ingin terlihat beda dengan yang lain, bagi perempuan bisa anda cari sendiri di Google biasanya mereka berkiblat dengan gaya seorang model asal inggris “Alexa Chung”.

Mencoba susah payah ingin terlihat berbeda, bukankah itu telah pasaran,  atau ingin diakui dan sadar kalau dirinya hipster, bukankah barang itu bukan hipster lagi namanya ?, susah untuk menghakimi hal yang saling bertolak belakang dan banyak sangkut pautnya ini, tapi bagaimana kalau di jaman kolonial sebelum era kemerdekaan ternyata ada seorang hipster ? mungkin gelar hipster layak disandang oleh salah satu Pahlawan Nasional kita H Agus Salim.

142722277887069956
meme agus salim(edit).
sumber : puanmaharani.web.id
H Agus Salim lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat,Hindia Belanda, pada 8 Oktober 1884, meninggal di Jakarta, Indonesia, 4 November 1954 pada umur 70 tahun adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Meskipun H Agus Salim adalah seorang Tokoh Nasional dan Buya panutan, tetapi karakter dan gaya nyentrik sangat melekat pada dirinya.

14272231261339403189
buya sedang main kartu.
Beliau pernah beranggapan bahwa wine boleh diminum asal tidak sampai pada tahap memabukkan, pernyataan tersebut dikutip dari keterangan Emil Salim yang pernah dimuat majalah tempo edisi kemerdekaan terbitan tahun 2013, menurut emil : “Om tahu batas. Ia tidak mabuk. Tubuhnya yang dihangatkan, bukan otak”, begitu penjelasan putra Bey Salim (adik Agus Salim) ketika diwawancarai wartawan Tempo.

Isu mengenai kesetaraan gender pun ikut diangkatnya, pernah pada saat berlangsungnya musyawarah Jong Islamieten Bond (JIB), beliau berpesan agar dibukanya tabir pembatas antara laki-laki dan perempuan, menurutnya tabir tersebut adalah produk budaya arab bukan Islam, dan merupakan bentuk penindasan terhadap perempuan. Meskipun buya sering bersikap nyeleneh dan tidak mengikuti kecendrungan ulama pada masa itu beliau tidak pernah di cap liberal, seperti layaknya tuduhan-tuduhan umum sekarang terhadap ulama-ulama “progresif”, justru sebaliknya beliau banyak dikagumi ulama-ulama lainnya dan selalu di akui kecerdasannya.

Meskipun pada pertemuan-pertemuan atau musyawarah beliau acap kali kelihatan tampil beda dan nyentrik, tapi pada kenyatannya beliau adalah seorang yang sangat sederhana. Dengan kecerdasan yang dimiliki Haji Agus Salim sebenarnya ia dapat hidup lebih dari berkecukupan asalkan mau bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda. Namun dia menolak dan memilih untuk hidup di rumah kontrakan dan terus berpindah kontrakan hingga akhir hayatnya.

Haji Agus Salim tak hanya dikenal sebagai guru yang rendah hati, menguasai banyak bahasa asing, dan pendebat yang kritis, tetapi dia juga seorang humoris. Pada saat menjadi pimpinan Sarekat Islam, Salim sering berseberangan dengan anggota yang beraliran komunis. Ia kerap kali dicerca dan diejek oleh pengikut SI berhaluan kiri. Dalam salah satu kesempatan di podium, Muso pernah mengejek Cokroaminoto seperti kucing, dan Agus Salim yang mirip kambing. Muso berteriak kepada hadirin : “Saudara-saudara, orang yang berjanggut itu seperti apa? “Kambing!” jawab hadirin. “Lalu, orang yang berkumis itu seperti apa? “Kucing!” Begitu giliran Salim berpidato, ia tak mau kalah. “Saudara-saudara, pertanyaan yang tadi belum lengkap. Orang yang tidak berkumis dan tidak berjanggut itu seperti apa?” Salim menjawab sendiri, “Anjing!”. Satu lagi humor Agus Salim yang diingat orang ialah ketika ia diundang makan malam. Pada acara tersebut ia memilih menyantap hidangan dengan tangannya. Seorang Eropa terkesima dengan tindakan tersebut dan langsung menegur, “Mengapa Anda makan menggunakan tangan, padahal sudah tersedia sendok”. Salim lantas menjawab, ”Saya menyuap dengan tangan sendiri untuk masuk ke mulut saya. Sedangkan sendok yang Tuan-tuan pakai, pernah masuk ke mulut banyak orang.” Begitulah beberapa cuplikan humor intelek khas Agus Salim.

Setelah mengundurkan diri dari dunia politik, pada tahun 1953 ia mengarang buku dengan judul Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauchid harus dipahamkan? yang lalu diperbaiki menjadi Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal. Ia meninggal dunia pada 4 November 1954 di RSU Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Namanya kini diabadikan untuk stadion sepak bola di Padang.

14272235332021676332
salim duduk di sudut kiri.
Itulah Haji Agu Salim yang memang berbeda pada masanya karena kehebatan pemikirannya dan kerendahan hatinya, serta kesederhanaannya yang patut dijadikan contoh.


Sumber rujukan :

___________________________________________
Info: Kepada seluruh penggemar dunia militer yang ingin mengambil atau copas koleksi foto ini, harap menyertakan linknya ya? Jika tidak disertakan link blog ini, kami akan melaporkan postingan copas tersebut ke google sebagai bentuk pelanggaran dan postingan illegal. Blog yang banyak melanggar dan berisi konten illegal/plagiat akan dihapus dari google. Atas kerjasama dan perhatiannya kami ucapkan terimakasih!!! 

Temukan kami di Twitter untuk mengupdate berita setiap harinya, Follow Portal Militer On Twitter
____________________________________________
http://militaryanalysisonline.blogspot.com/p/tips-pasang-iklan-di-blog-portal.html
=> KLIK DISINI UNTUK INFO SELANJUTNYA <=
visit www.loogix.com
DVD ANAK SHOLEH SERI TUPI DAN PINGPING HARGA RP. 85.000-,
ORDER SILAHKAN HUBUNGI 085776198615
visit www.loogix.com
DVD HARUN YAHYA SEDANG PROMO NIH, DARI HARGA RP. 150.000-, 
JADI RP. 100.000-, ORDER HUBUNGI 085776198625

Berita Militer Adalah Blog DOFOLLOW Yang dapat Memberikan Backlink Kepada Pengunjung Blog ini Hanya dengan Meninggalkan KOMENTAR Anda. Kami Harap Kerjasama Anda Untuk Tetap Menjaga Reputasi Blog ini dengan tidak Berkomentar yang Berisi SPAM


EmoticonEmoticon