Transisi Kekuasaan Indonesia, Dari Jenderal Airborne Kepada Jengis Khan


Dunia berubah karena kesalahan hitung orang orang di bagian gudang. Bagian logistik. Di sini saya hendak berkisah tentang bom atom yang tidak perlu di jatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, jika tentara sekutu di perang pasifik benar benar resourcefull pada 6 Juni 1944, dan yang diperhitungkan demikian.

Karena para tentara AS di theater perang dunia kedua front Eropa, sudah bisa dialihkan ke front pasifik. Karena bala tentara Hitler yang dikejar tentara sekutu sejak D-Day dihabisi lebih dahulu di Belgia. Artinya perang sudah usai sebelum Natal 1944 tiba, di semua front. Atau yang diperhitungkan demikian.

Berdasarkan buku terkenal dari Cornelius Ryan, A Bridge Too Far, fakta yang terjadi segala en route segala pendudukan tentara sekutu tidak pernah mencapai apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka inginkan. Karena satu alasan. Kurangnya persiapan logistik.

Kurangnya persiapan logistik, suatu alasan yang sama dikaitkan dengan kenapa Jerman menyerang dengan pola yang sama Blitzkrieg pada saat Battle of Bulge, yakni memutus logistik sekutu, dari tentara di front utara Belanda, dengan Selatan di Belgia.

Gagasan itu tidak pernah berhasil karena suplai logistik untuk tank tank pemburu keburu habis.

Pemikiran kehabisan logistik selalu di derita jenderal jenderal tempur, karena pikiran mereka adalah memanfaatkan pertaruhan modal yang ada demi kemenangan gemilang. Nanti ya urusan nanti. Begitulah yang terlihat dari para jenderal protagonis perang seperti Patton (AS), Montgomery (Ingg), Guderian (Nazi), Zhukov (Sovyet), atau Matsumoto (Jepang).


Mulailah dengan Berpikir Aman
Sebaliknya ada jenderal jenderal antagonis, yang saat rapat lebih banyak diamnya, bagai para biarawan bisu, dan tampak malas, mereka di antaranya Bradley (AS), Alexander (Ingg), Rundstedt (Nazi), Kuribayashi (Jepang).

Jenderal yang kelihatan lamban itu yang lebih berbahaya, dan mereka mempersingkat perang saat yang lain memperpanjangnya.

Yang lain berpanjang panjang dalam perang dan menambah tantangan karena hanya tau aksi. Aksi itu keren, walau menghabiskan banyak darah prajurit. Blood (darah) and Guts (nyali), kata Jenderal Patton. Lantas ditimpali ledekan oleh prajuritnya, "ya darah kita, nyalinya dia".

Sebaliknya jenderal bisu yang tenggelam dalam pikirannya sendiri, lebih ragu bertindak karena dia berpikir apa yang safe? Bagi dirinya dan tentaranya. Jenderal jenderal jenis itu akhirya menjadi lelakon Jawa sejati, alon alon asal kelakon. Biar lambat asal selamat.

Pun Indonesia selepas krisis multidimensi sepeninggal orde baru pada 1998. Di mana pondasi ekonomi kita penuh bilur, hutang menumpuk, rupiah anjlok, orang mengantri beras murah, dan kita mesti kehilangan sedikit kendali pada ekonomi.

Situasi kita tidak aman.

Dalam istilah fiskal situasi tidak aman bukan berarti ada defisit, bukan juga ada inflasi, atau resesi. Situasi tidak aman adalah situasi di mana kita tidak punya modal untuk kembali, tidak ada bounce back dan rebound, tidak bullish.

Kuldesak, disudutkan untuk akhirnya pecah belah, kocar kacir, cari selamat sendiri, tidak ada organisasi anggaran lagi, tidak ada kebijaksanaan, yang ada orang kalap berlari tak tentu arah tujuan. Itulah situasi tidak aman dalam hal fiskal.

Pada era Gusdur berlanjut pada Megawati, fiskal kita masih tidak aman. Bahkan kepungan terhadap negara ini ditambah dengan terlepasnya aset (yang konon liabilitas itu karena SDM sendiri) ke tangan asing. Tak mengapa karena hutang luar negeri membuat kita terpuruk, dan kita butuh menjadwal hutang agar bisa berdiri kembali.

Lalu apa bedanya bisa berdiri di tengah kepungan?

Perkenalkan sang Jenderal Airborne
Ada bedanya, karena perkenalkanlah presiden terpilih baru Indonesia pada 2004. Seorang Jenderal bernama Susilo Bambang Yudhoyono. Perawakan tenang, bicara cenderung hati hati, dan bahkan terlihat kikuk dalam situasi sipil nya. Dia mewarisi posisi berdiri di tengah kepungan tantangan ekonomi regional. Mulai dari nol dengan modal dan logistik yang serba tipis.

Apa yang dia lakukan? Dan inilah jawaban Tuhan untuk Indonesia. Kita diberikan sosok Jenderal, kembali ke tangan militer namun bukan militer tempur, tapi militer pemikir. Dan Tuhan menambahi nikmat Indonesia ini dengan memberikan pada kita jenderal yang punya akar sebagai airborne alias penerjun payung.

Anda tahu makna airborne dalam peperangan? Artinya harus sudah terbiasa untuk dikepung musuh, wong diterjunkan sudah pasti di wilayah musuh, masak di wilayah sendiri.

Sang jenderal airborne dengan kode SBY ini, memaksimalkan logistik yang tipis bukan sebagai modal bertaruh tapi sebagai modal bertahan. Dia angkat menteri menteri muda brilian di bidang ekonomi dengan latar keynesian, dan bukan latar ideologis.

Menilik kembali kisah perang dunia kedua, di hutan Bastogne Belgia saat Battle of Bulge, satu batalyon penerjun payung AS di kepung oleh Jerman di seluruh penjuru. 101 Airborne AS yang terkenal itu diterjunkan demi satu tujuan untuk tidak pindah posisi, dan itulah yang mereka lakukan sekedar bertahan.

Dan itulah yag dilakukan menteri menteri muda di wilayah ekonominya SBY. Para Keynesian dari Agus Martowardjojo, Sri Mulyani Indrawati, hingga M Chatib Basri, adalah para prajurit yang dididik untuk luwes bergerak di wilayah sendiri dengan modal tipis.

Kebijakan mereka di mulai dari kebijakan defisit, tapi defisitnya Keynesian ini loh. Defisit yang lebih terarah demi menghindari krisis sambil mengambil untung sedikit demi sedikit dari pertaruhan kecil dengan ongkos politik yang juga kecil.

Transisi Menuju Serangan
Tugas dari Airborne pun jelas, bertahan sampai akhirnya tiba bala bantuan. Tiba pasukan yang lebih segar dan sangar, tiba tentara dengan logistik lebih kuat siap melabrak dan mengambil keuntungan dari apa yang bisa membuat mereka mempertahankan suatu tempat sambil membuat bangkrut musuh yang mengepungnya.

Di Bastogne, 101 Airborne AS yang dikepung berhasil "diselamatakan" batyalon panser jenderal Patton. Kata diselamatkan itupun multitafsir, karena Patton tinggal menghabisi musuh yang habis modal.

Dan itulah pula yang terjadi dengan Indonesia di tangan jenderal yang akarnya dari Airborne. Pondasi ekonomi kita lebih kuat, lebih tahan krisis, lebih tahu caranya menghindari kepungan ekonomi dalam waktu yang lama, walau dengan jalan proteksi.

Di sisi lain telah tumbuh "tentara" lebih segar dan sangar dalam bentuk kelas menengah baru yang tumbuh sangat cepat.

Selepas SBY dengan kisah keberhasilannya bertahan, yang dia kisahkan kembali pada saat Pidato Kenegaraan 15 Agustus 2014, adalah suatu isyarat. Pidato SBY memberikan suatu gambaran substansial tentang apa yang tengah kita hadapi dalam banyak bidang.

SBY bercerita kepada kita level tantangannya. Situasi "musuh" di luar sana, kebiasaan mereka dan kelemahan mereka yang berhasil di kuliti oleh anak anak muda Keynesian kita.

Pertanyaannya siapkah Jenderal selanjutnya memimpin sepasukan kelas menengah baru, untuk lepas dari jebakan dan "kepungan musuh" yang membuat negara ini masih dalam kondisi middle income?

Middle income, kata SBY berhasil membuat posisi Indonesia dalam 20 negara dengan ekonomi terbaik dunia. Tapi dengan modal yang tengah tumbuh mestinya middle income ini hanya sementara.

Dan benar yang kita butuhkan dalam hal ini adalah "Jenderal" yang bereputasi sangar, senang menyerang, lihai dalam defensif. Dia bukan Patton yang main labrak tanpa pemikiran, atau bagai Matsumoto yang mudah putus asa apabila pertaruhannya gagal.

Bahkan jenderal yang dibutuhkan Indonesia pada 2014 selanjutnya tidak ada dalam kisah perang dunia kedua.

Lantaran jenderal jenis ini adalah dia yang mampu menjadikan para prajuritnya sebagai jenderal itu sendiri. Ya. Di sini saya bicara tentang Jengis Khan. Di mana seorang anak petani bisa dia sulap jadi jenderal brilian. Lantaran pandai mencari bakat, pandai menempatkan bakat, dan tidak terjebak pada status elite seseorang.

Pada akhirnya, dibawah pimpinan Jengis Khan, orang orang di padang rumput jauh dari peradaban itu berhasil menguasai dua pertiga dunia, dan meruntuhkan negara adidaya.


PESAN TIKET PESAWAT, KERETA, HOTEL DAN PULSA

1 komentar

Berita Militer Adalah Blog DOFOLLOW Yang dapat Memberikan Backlink Kepada Pengunjung Blog ini Hanya dengan Meninggalkan KOMENTAR Anda. Kami Harap Kerjasama Anda Untuk Tetap Menjaga Reputasi Blog ini dengan tidak Berkomentar yang Berisi SPAM


EmoticonEmoticon