Ini Identitas Bangkai Kapal Selam Jerman yang Tenggelam


JAKARTA -- Apa yang dilakukan kapal selam Jerman di perairan Jawa? Buku sejarah Indonesia tidak pernah mengungkit soal keterlibatan armada kapal selam Nazi Jerman tersebut. Kalau begitu, apa misi mereka di Nusantara dan bagaimana mereka bisa sampai ke Indonesia?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengemuka dalam diskusi kesimpulan awal penelitian Pusat Arkeologi Nasional di perairan Karimun Jawa. Tim peneliti menemukan bangkai kapal selam Jerman U-Boat yang relatif cukup utuh. Temuan, selain bangkai kapal selam itu, adalah rangka yang diduga para awak kapal dan sejumlah peralatan.

Ketua Tim Peneliti, Bambang Budi Utomo, mengatakan dugaan awal mengarah pada dua kapal selam U-Boat Jerman bernomor kapal U-168 dan U-183. Dari data literatur milik Pemerintah Jerman, memang diketahui kedua kapal itu tenggelam di perairan Indonesia, namun pada tahun berbeda belum diketahui pasti.

Data yang diakses dari UBoat Archive dan UBoat misalnya menegaskan kapal selam U-168 tenggelam pada 1944, sementara kapal U-183 tenggelam pada 1945. "Kapal U-168, kami menduga ini yang kami temukan, tenggelam pada 6 Oktober 1944," kata Bambang, Senin (18/11). Kapal itu dihajar torpedo kapal sekutu yang juga berlayar di perairan Laut Jawa.

Dari data misi kapal UBoat, sambung Bambang, memang tercantum armada kapal selam Jerman sempat mondar-mandir di perairan Laut Jawa, Laut Australia, dan Samudera Hindia. Ini ada hubungannya dengan persekutuan Jepang-Jerman dalam menghadapi sekutu.

Jerman menyiagakan armada kapal selamnya di Asia Tenggara untuk memotong pasokan logistik dari Eropa ke Australia. "Tapi apa sejauh itu? Kita juga mendapat data bahwa Jerman ternyata punya 'pangkalan' di Pulau Penang Malaysia, di Jakarta, bahkan di Surabaya," kata Bambang.


Penyelam Bangkai Kapal Nazi Jerman Mengaku Takut Tapi Penasaran

Penemuan bangkai kapal selam U-Boat milik Nazi Jerman di kawasan Karimun Jawa cukup mengejutkan publik. Apalagi di dalam bangkai kapal selam itu masih terdapat artefak penting dan kerangka yang diduga kru kapal itu.

Kapal selam Jerman tersebut tenggelam karena kena torpedo dari armada sekutu yang sudah menunggu mereka di Laut Jawa. Shinatria Adhityatama adalah satu arkeolog muda yang beruntung mendapat kesempatan menyelam masuk ke dalam bangkai kapal tersebut.

Penelitian bangkai kapal selam berlangsung selama sepuluh hari sejak 4 November kemarin. Bagaimana rasanya menyelam di bangkai kapal selam Nazi?

"Rasanya senang, takut, was was, tapi penasaran," kata Shinat saat bertemu ROL, Senin (18/11). Ia kisahkan, kondisi kapal selam relatif utuh. Secara kasar masih tersisa 60 persen bagian tubuh kapal. Bentuk bangkai kapal berupa menyerupai tabung kapsul.

Badan kapal itu sudah tidak utuh. Bajanya bolong-bolong di makan air laut. Kapal juga sudah menjadi tempat tinggal ikan dan hewan laut lainnya. Bagian buritannya terlihat rusak cukup parah. "Ada bekas kena torpedo," katanya.

Kapal tergeletak di dasar laut. Panjang bangkai kapal sekitar 47 meter dengan diameter kapal 5-6 meter. Semestinya kapal tersebut memiliki panjang total 76 meter. Di dekatnya ditemukan patahan menara kapal. Untuk melihat dan meneliti, tim selam mengandalkan cahaya senter. Ini karena sinar matahari tidak bisa menembus kedalaman air laut.

Tim peneliti mengambil sejumlah sampel artefak dari bangkai kapal selam Jerman itu. Artefak itu seperti piring makan dan piring kecil, cangkir, kacamata, teropong, sol sepatu, aki, alat selam. Saat ini artefak sedang diteliti lebih lanjut di laboratorium Pusat Arkeologi Nasional, Pejaten, Jakarta.

Berita Militer Adalah Blog DOFOLLOW Yang dapat Memberikan Backlink Kepada Pengunjung Blog ini Hanya dengan Meninggalkan KOMENTAR Anda. Kami Harap Kerjasama Anda Untuk Tetap Menjaga Reputasi Blog ini dengan tidak Berkomentar yang Berisi SPAM


EmoticonEmoticon